Cerita dfewasa Cerita Mereka

15879 views

Cerita dfewasa Cerita Mereka

0bdjx4tn6aec

Cerita Mereka
Dina dan Kusmiyanto telah menikah selama 7 tahun, dan dikaruiai seorang anak. Menginjak tahu kedelapan dari perkimpoian mereka, Kus mengajak istrinya untuk melakukan bulan madu kedua ke Amerika Serikat. Kus adalah seorang wakil area manager sebuah perusahaan penerbangan nasional, 29 tahun. Sedangkan istrinya, Dina, 31 tahun, bekerja pada sebuah pusat kebugaran.

Dalam perjalanan ke Amerika Serikat, pada pesawat Garuda Airways, GIA 212, mereka berkenalann dengan seorang mahasiswa Indonesia yang akan kembali ke AS. Roi,25 th. Ia mengambil program extension di UCLA, yang kebetulan berada di LA, tempat tujuan mereka. Roi dan Kus cepat merasa akrab satu sama lain, bahkan Kus menerima tawaran Roi untuk membantu menjadi guide apabila diperlukan. Dina setuju saja atas keputusan suaminya, selain ia tidak merasa terganggu, ia juga mulai menyukai anak tersebut karena kesopaannya. Terlebih lagi Roi mengingatkannya akan suaminya semasa SMA.

“Mbak…mbak filmnya baagus …” Roi menjawil lengan Dina yang 1/2 mengantuk. Dengan mata masih setengah terpekam Dina mencoba melihat film yang baru saja diputar. Ternyata film itu berjudul Wild Orchid, khusus diputar untuk penumpang klas utama, dengan tv pribadi yg terletak di depan masing2 penumpang. Dina kemudian mencoba membangunkan Kus, tetapi Kus telah terlelap. Tubuh Dina panas dingin menyaksikan adegan demi adegan film tersebut. Matanya sesekali terpejam membayangkan adegan tersebut. Tanpa sadar tangannya menyusup turun dibalik selimutnya, meremas-remas buah dadanya sendiri. “….hhhhhhhhh………” hanya desisian yg keluar dari mulutnya. Tiba-tiba ia terkejut. Ada tangan lain dari arah kanannya yang bergerak masuk ke selimutnya. Yanpa permisi tangan tersebut menyusup masuk ke blusnya dan meremas2 payudara kanannya. “……………!!” secara refleks ia menoleh ke kanan, namun Roi memberi isyarat untuk diam. Matanya kembali terpejam, menikmati remasan tangan pemuda di sebelahnya. Tangan pemuda itu menyusup lebih jauh dibalik bra-nya. Menggerayangi payudaranya, meremas2nya dan mempermainnkan putingnya yg mulai mengeras. “….mbak dina..enak nggak…..? kalau tidak mau saya berhenti ya ? “…Roi berbisik. Perasaan syurr telah mempengaruhi otak Dina, sehingga ia bahkan membimbing tangan Roi menjelajahi bukitya. Maka dibalik selimutnya tersebut sebuah tangan menyelusuri dan memberikan kenikmatan pada Dina. Nafas Dina semakin memburu, bahkan ia merasa dinding vaginanya basah. Remasan tangan Roi telah membuatnya terangsang ! Suasana kabin yang gelap dan privacy yang tinggi di kelas utama membuat mereka bisa agak leluasa bergerak. Tiba-tiba ia merasa ingin kencing, akibat dinginnya AC pesawat dan kenikmatan yang diberikan Roi. Tangannya kemudian menghentikan gerakan tangan Roi, sembari berbisik “….saya ke belakang dulu ya..” Ia juga berbisik kepada suaminya. Kemudian ia menuju kamar kecil yang berada di belakang kabin.

Setelah selesai buang air kecil, ia menatap dirinya di depan kaca. Dalam hatinya ia berkata masih cantikkah aku ? sehingga pemuda 25 thn itu tertarik ??. Pertanyannya belum terjawab, terdengar ketukan di pintu. Prakiraanya itu adalah suaminya, yang ingin menyusul. Ketika ointu terbuka, ia justru mendapai Roi yg tersenyum dan menerobos masuk. “Hi…..boleh kita lamjutkan disini ? ” Tangan Roi langsung dilingkarkan ke pinggang Dina. “Tapi……………..” Belum sempat Dina menjawab, bibirnya mendapat serangan dari pemuda itu. Lidahnya menerobos masuk mulutnya untuk mempermainkan lidahnya. Secara refleks Dina merangkul Leher Roi, memejamkan matanya menikmati pagutan pemuda yang baru dikenalnya tersebut. Ia kemudian merasakan sesuatu yag semakin membesar di bagian bawahnya. Sesaat ia melepaskan diri dari ciuman pemuda itu dan berbisik .. “….cepat………..” Roi dengan cepat melepaskan celana jeansnya, termasuk celana dalamnya. Penisnya dengan segera menyembul, ereksi. Mata Dina hampir terbelalak melihat penis pemuda itu. Tangannya yg sedang memegangi jeansnya sendiri bergetar sehingga celanannya terjatuh. Roi segera mendudukkan Dina di meja rias kamar mandi, sementara kaki Dina mennjepit pinggangnya. Mulutnya kembali menciumi leher wanita tersebut. Tangan dina berada di bokong pemuda tersebut, berpegangan erat menantikan saat liang vaginanya diterobos. “Ooohhhhhhhhhh…………………hhhhhh” matanya terpejam, sementara ia mendesis, ketika penisnya Roi menerobos liang vaginanya. Lubang vaginanya yang telah mulai basah diterobos oleh penis Roi yang lebih besar dari milik suaminya. Roi kemudian mempercepat gerakan menusuknya, pinggulnya bergerak sangat cepat. “Ooohhhh….yaa…..yaa…enaakkkkkk……MmMpppph phhhhh…” “Din…….mmmmmm….liang kamu masih sempit……..” Roi mendorongkan bagian bawahnya dengan keras. Membuat mata dina makin terpejam keenakan. Sementara pemuda itu berkonsentrasi menahan ereksinya. “Oooaaahhhhhhhh……..Roi…cepat…ceeppaatt…. …….” tangannya mencengkeram pantat pemuda itu. “HHmmmmgghmmmmm………..” peluh Roi bercucuran, gerakannya makin cepat, makin keras dan dalam ia menusuk. Tiba-tiva ia merasakan kuku wanita itu menusuk keras, otot vaginannya meregaang dan……… “Ahhhhhhhhhhhhhh……….Roiii…..i…..i..iii.. .” pertahanan Dina-pun pecah, desakan dan gesekan penis pemuda itu telah membuatnya memcapai titik klimaksnya, Ia pun kemudian membelalakkan matanya ketika merasakan sesuatu yg hangat menyemprot di liang vaginanya. Ia pun mendongakkan kepalanya, mata terpejam merasakan kehangatan cairan mani pemuda itu. Roi setelah meyemprotkan semennya ke dalam Dina tersenyum, mencium bibir wanita itu dan melepaskan penisnya dari dalam liang vaginanya. Bibir Roi kemudian mengunci mulut Dina, memberikan ciuman hangat di bibir wanita itu. “Mari saya bersihkan……..” Dengan cepat ia membersihkan semua cairannnya, dan membantunya merapikan diri. Semau itu terjadi dalam waktu kurang dari 6 menit. Kemudian Dina kembali ke samping suaminya yang masih tertidur lelap. Iapun tertidur karena lelah dan puas. Sementara film tetap diputar…….

Hari Pertama : LA
Setibanya di LA mereka langsung menuju ke Hotel yang telah dipesan Kus, yang terletak di sekitar pusat kota LA. Sementara Roi kembali ke pemondokannya dengan meninggalkan nomor telepon. Setelah semuanya tertata rapi, Dina membersihkan dirinya dengan kehangatan air shower di kamar mereka. Saat air shower menyiram tubuhnya, pikirannya kembali melayang ke toilet di pesawat GIA semalam. Matanya terpejam membayangkan kenikmatan sesaat yang dirasakannya tersebut. Tiba-tiba ia meresakan sepasang tangan merangkulnya dari belakang, diiringi cumbuan ringan di lehernya. “..mass…?..” Tangan suaminya kemudian menurun ke areal segitiga istrinya. Jemarinya membuka dengan perlahan bibir vagina istrinya. Dina memdesah ringan saat jemari suaminya membuka dan memanipulasi clitorisnya. “aahhhhh……..” Tubuh Dina bergetar saat ia merasakan sesuatu yang sensasional dari bagian bawah tubuhnya itu. Ia merasakan penis Kus telah mengeras diantara pantatnya. Dina kemudian menunggingkan tubuhnya, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi. “dina…” Kus telah hafal tabiat istrinya. Maka ketika istrinya mengambil posisi demikian ia mengambil posisi di belakang istrinya. Dengan memegang penisnya dengan tangan kiri, benda panjang tersebut perlahan-lahan didorongkan masuk ke liang memek istrinya. Sementara tangannya yang lain mempermainkan putting susu istrinya. “Hhhhhhhh..mmmmmm…….” mata dina terpejam, saat perlahan-lahan penis suaminya menginvasi daerah intimnya. Ia menikmati benar saat dinding vaginanya tersebut membesar dan bergesekan dengan benda milik suaminya itu. “Oohhhhh..enakkkk…aaahhhhhhhh…” dina mendesisis keenakan saat suaminya mulai melakukan gerakan keluar-masuk dengan irama. Tubuhnya kembali bergoyang dengan tiap gerakan suaminya menusuk dari belakang. Terakan Dina makin cepat seiring dengan perasaan ekstasi yang ia nikmati. Tiba-tiba ia menghentikan gerakan suaminya. Membalik tubuhnya dan mendorong suaminya hingga rebah di lantai kamar mandi. ” sekarang giliran saya……” dengan tersenyum ia mengangkangi penis suaminya dan mendudukinya. Sekali lagi matanya terpejam menikmati perasaan itu. “Ahhhhhhhhhhhh..” Kus tidak tinggal diam, begitu istrinya meluncur untuk dudk di penisnya, ia menyambutnya dengan mendorongkan pinggulnya keatas, menyambut luncuran istrinya. Dina menguasi suaminya dalam posisi ini. Ia menggoyang-goyangkan bagian bawah tubuhnya sementara Kus asyik bermain-main dengan payudaranya, Menjilat.mengulum, dan menggigit putingnya. Peluh telah membasahi tubuh keduanya, bercampur dengan air hangat kamar mandi. Gerakan Kus semakin cepat, ia megimbangi gerakan istrinya yang semakin cepat pula. Ia melihat wajah istrinya yang mulai menegang, begitu pula tubuhnya. “Mas…ooohhhhhhhh……hhhhhhh…..” disertai erangan lirih istrinya menegang kemudian terkulai di dadanya. Dinding vagina istrinya serasa memijat-mijat penisnya saat ia mencapai puncaknya. Kus kemudian membaringkan istrinnya di sebelahnya, bernafas keras. Susu istrinya yang indah turun naik seiring dengan desaha nafasnya. Karena melihat suaminya belum apa-apa, Dina kemudian jongkok diantara paha suaminya. Memegangi penis Kus, kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Kus merasakan eanak yang luar biasa, saat lidah istrinya mempermainkan ujung penisnya, menghisap-hisapnya, bahkan menggigiti ringan. “Oohh..dina enak..terus..sayannnggg..” giliran mata Kus yg terpejam keenakan. “teruss….oohhhh..terusssssss….”… Hari Kedua – Roi
Kus mengundang Roi untuk makan malam di hotel mereka. Dina yang mengusulkan hal ini kepada Kus , yang tentu saja dengan sedikit curiga menuruti kemauan istrinya.
Roi membawa 3 teman kosnya 2 teman kosnya malam itu, Bram dan Tri. Tri terlibat pembicaraan yang serius dengan Kus menyangkut peralatan fotografi, yang rupanya juga merupakan hobinya. Akhirnya Kus setuju diajak Kus malam itu ke toko yang terdekat dan cukup lengkap seusai makan malam, sementara Roi dan Tri akan pulang. Dina memilih untuk tidur saja malam itu, ia sudah cukup lelah berjalan pada pagi harinya keliling kota. Meski sudah amt berkurang dengan kehadiran Roi. Setelah ia mengatarkan suaminya ke depan hotel, ia bermaksud naik ke kamarnya. Tiba-tiba Roi dan temannya menghampirinya dan menawarkan untuk menemaninya naik. Ia pun mengangguk.

Situasi lift malam itu penuh, kapasitas 12 orang terisi 10 orang, sehingga sesak. Di saat keramaian itu Dina merasakan sesuatu yang besar menenekan pantatnya. Ia tahu bahwa Roi dan Tri berada di belakangnya. Karena Dina terdesak dari depan ia terpaksa harus lebih mundur, semakin ia menekan ‘benda’ yang berada di pantatnya. “siapa dia..? kok rasanya tidak pakai celana dalam..? ” gumannya dalam hati. Belum sempat ia berpikir lebih lanjut sepasang tangan menyelinap ke dalam kaosnya dan menuju bagian depan. Tangan itu kemudian meremas-remas kedua “bukit” nya. Putingnya segera mengeras menerima remasan dari tangan misterius itu. Perjalanan menuju lantai 15 terasa lama. Hingga akhirnya pintu lift itu membuka. “Sudah ya dik..saya capek. Terima kasih telah diantar ” ujar Dina ketika hendak masuk ke kamarnya. Kedua pemuda itu saling memandang dan ….. tiba-tiba.. “mmmmmmmmmmmmphhhh..” Dina tidak bisa berkata apa-apa karena Roi tiba-tiba mengunci bibirnya dan mendorongnya masuk ke kamar. Sementara Tri mengunci pintu kamar. “Hei..hei..apa-apaan ini..” dina mencoba marah. “Sudahlah..mbak juga ingin bukan..? ” kata Roi sambil tertawa dan melepaskan kancing celananya. Dina terduduk di tempat tidur, menatap kedua pemuda itu. Roi paling cepat selesai melepaskan pakaian. Dina yang sedang duduk itu ditanggalkannya bajunya, tanpa perlawanan. Kemudian ia membuka paha wanita itu lebar-lebar, shingga duduk mengangkang di tempat tidur. Celana dalam merahnya jelas terlihat dalam posisi ini. Tanpa banyak bicara Roi jongkok di antara kedua paha Dina, dan membenamkan wajahnya ke celana dalamnya. Lidah Roi menjilati area bibir vagina dina. “Uuuufffff..” Dina kontan mendongakkan kepalanya ke belakang. Tanpa ia sadari Tri telah berada di belakangnya. Kepala Dina jatuh di dada pemuda itu. Disambut dengan ciuman hangat di bibir Dina. “Gila…2 orang !!” pikirnya dalam hati. Tangan Tri melepaskan kaitan di BH Dina. BH warna merah itupun jatuh ke seprei putih tempat tidur. Payudara dengan ukuran 36A itupun menyembul. Tanpaa ampun tangan Tri-pun meremas-remasnya. Dian merasakan kenikmatan ganda, vaginanya dijilati oleh Roi sementara payudaranya diremas- remas oleh Tri. Ia hanya bisa merintih-rintih merasakan kenikmatan tersebut. Tak lama kemudian ketiga insan tersebut telah menanggalkan semua benang yang melekat di tubuhnya. Dina kini tergolek di tempat tidur dengan kaki berada di pundak Roi. Roi telah memasukkan penisnya ke vagina Dina dan menusuk-nusukkannya dengan cepat, sambil sesekali tangannya mempermainkan clitorisnya. Sementara Tri mengangkangi kepala Dina, membiarkan penisnya dikulum dan dihisap-hisap oleh Dina. “Ooohhhh…hisap terus mbak..enakkk…ahhhh..” Tri mengerang sambil tangannya mempermainkan putting susu Dina. Sesekali dicubitnya kedua putting yang telah mengeras itu, sehingga membuat Dina mengigit ujung penis Tri yang sensitif. Dina tidak bisa berteriak ataupun mengerang keenakan akibat terobosan penis Roi yang berulang-ulang di lubang vaginanya. Mulutnya sibuk dengan penis besar dan tebal itu. Ia hanya bisa memandang ataupun memejamkan mata. Beberapa kali badannya bergetar ketika Roi menyentuh clitorisnya, kenikmatan yang luar biasa menjalar ketika roi melakukan hal itu. “Mbak…mbakkkk..oohhhhhhhhhh…..” dengan sodokan final Roi membenamkan penisnya keseluruhan kedalam liang vagina Dina, dan menyemprotkan cairan hangat dan kental di dalamnya. Dina hanya bisa memjamkan mata, merasakan cairan hangat itu memenuhi liang kewanitaannya. Setelah selesai Roi memuncratkan sisnya di sekitar payudara dina. Cairan kopi susu itu pun membuat dada dina berlepotan. Sementara hisapan Dina makin keras, ia merasakan ada sesuatu yang keluar dari penis Tri yang sudah bermandikan keringat. Sesuatu yang manis dan hangat. Dina makin bersemangat, disedotnya terus penis pemuda itu hingga semua muatannya keluar. Cairan sperma Tri menerobos keluar. Meskipun Dina mencoba menelan semuanya, ada saja yang keluar dari mulut mungilnya. Tri kemudian merebahkan dirinya disampin Dina. Ketiga insan itu kelelahan atas permainan asmara yang baru saja mereka lakukan.

Hari ketiga : suamiku……
” Mas Kus….. kalo tau mbak Rina main sama org lain gimana..?” Bagai disambar gledek Kus kaget ..” Apa !…” Mukanya mendadak tegang. Situasi di lift yg tadi ceria mendadak berubah. Ia kemudian mencengkeram krah leher Roi yg bersamanya. ” Hei..calm down. Itu fakta. Mbak Rina sudah main dgn saya dan teman saya Tri, dan dia menikmatinya. Bahkan sekarang dia lagi main dengan Bram. ” Roi dengan enteng menjawab pertanyaan Kus. ” Tenang..tenang.. Kita liat aja nanti..” Walau Kus bagai terbakar oleh amarah, namun ia tidak bisa menyembunyikan kegairahannya. ” Tuh..kontol kamu keras..berarti…” ujat Roi sambil tersenyum. Ketika pintu lift terbuka mereka berdua segera keluar dan berlari menuju kamar Kus. Ketika ia hendak membuka pintu, Roi nebgisyaratkan agar ointu jangan dibuka. “mari..masuk kamar sebelah, ada connecting doornya, aku sewa khusus hari ini..” Tanpa banyak bicara ia langsung masuk dan……. Ketika pintu koneksi dibuka tampaklah Rina sedang dipangku oleh Bram, kakinya mengangkang dan menduduki penisnya. Mata istrinya terpejam dan merintih-rintih. Ia menggoyangkan bagian bawah tubuhnya, sementara tangan bram mempermainkan payudaranya. Kus tidak bisa berkata apa-apa.. hanya kemaluannya yg memberi reaksi pada situasi itu. Erangan istrinya berubah menjadi teriakan saat Bram menghentakkan pinggulnya dengan keras.., saat itulah mata Rina terbuka melihat suaminya berdiri di pintu ruangan sebelah bersama Rio. “Oohhh…….tidaakk!! ” Ia hendak berdiri tetapi tangannya dipengagi oleh Bram. ‘Ohh..lepass….lepppass…….sssss” Bram dengan semangat menghentakkan untuk terakhir kalinya pinggulya ke atas, menyodokkan penisnya untuk terakhir kalinya ke dalam lubang kewanitaan Rina. “MmMmmmmmmmm……” Denga merurai air mata karena malu da nikmat Rina memejamkan matanya. “Rinaa……..” “Kus, sudahlah..ikuti saja lagian dia senang kan ?..” “Ayo Kus..nikmati tubuh istrimu ini. Kamu beruntung punya istri yg memeknya liat dan sesak ..” seru Bram. “Maaf mas….” Hanya itu yg bisa dikatakan Rina. Setelah Bram melepaskannya ia terduduk di depan suaminya. “Maaf…..aku rela kamu ceraikan….” Kus tidak sampai hati memarahi istrinya. Dipandangiya tubuh polos istrinya..dan.. “Tidak..tidak..aku menikmati apa yg aku lihat. Karena sudah kepalang tanggung..kamu mau melayani kami bertiga..?”

Incoming search terms: